Meskipun sudah menjadi pembicaraan sejak tahun 2004, Web 2.0 bukanlah kata
yang familiar bagi pengguna internet. Masih banyak pengguna yang
mempertanyakan maksud dan manfaat dari penggunaan Web 2.0, terutama jika
dibandingkan dengan web yang telah mereka kenal selama ini.
Ketika Web 2.0 disebut sebagai tahap kedua dari perkembangan web yang telah
ada saat ini, muncul kekhawatiran akan tidak kompatibelnya versi web tersebut
dengan program web browser yang dimiliki pengguna. Padahal tidak ada
satupun teknologi di sisi pengguna (client) yang perlu di-upgrade untuk dapat
mengakses web tersebut. Perkembangan web 2.0 lebih menekankan pada
perubahan cara berpikir dalam menyajikan konten dan tampilan di dalam
sebuah website. Sebagian besar cara berpikir tersebut mengadaptasi gabungan
dari teknologi web yang telah ada saat ini.

Walaupun definisi mengenai Web 2.0 masih belum secara utuh diformulasikan
sampai hari ini, ada pihak yang mengatakan bahwa Web 2.0 lebih menekankan
pada social network atau jalinan sosial antara penggunanya seperti yang telah
kita lihat selama ini dalam dunia Blog (Konek edisi 5 Februari 2006). Dengan
adanya RSS di dalam Blog, informasi-informasi di dalam sebuah Blog
dimungkinkan dapat diadaptasi, dikoleksi, dan di-share untuk menjadi bagian
dari Blog lainnya.
Namun O’Reilly dan MediaLive International menekankan bahwa Web 2.0
merupakan sebuah platform bagi aplikasi. Mereka mendeskripsikan hal ini
sebagai sebuah software yang berjalan melalui media internet dengan bantuan
web browser dan tidak perlu diinstalasi terlebih dahulu seperti softwaresoftware
yang umumnya kita gunakan sehari-hari. Bahkan konsep mengenai
sistem operasi di dalam web juga masuk dalam definisi tersebut di dalam
konferensi Web 2.0 pada tahun 2005.
MS Word berbasis Web
Anda dapat menjalankan program pengolah kata seperti Microsoft Word, serta
mengubah dokumen dengan hanya mengunjungi situs yang menyediakan
program tersebut. Karena program tersebut dapat dijalankan melalui web
browser, Anda tidak perlu melakukan instalasi program apapun di dalam
komputer.
Beberapa praktisi internet telah mengenal kemampuan tersebut dalam AJAX
(Asynchorous Javascript and XML), yang menggabungkan teknologi HTML, CSS,
Javascript, dan XML dalam menciptakan aplikasi website yang dinamis. Contoh
aplikasi tersebut dapat Anda lihat pada Google yang menyediakan program
sejenis Microsoft Excel melalui situsnya di http://spreadsheets.google.com.
Melalui aplikasi di dalam situs tersebut, Anda dapat membuka dan mengolah
dokumen spreadsheet yang dimiliki. Bahkan dokumen tersebut dapat di-sharing
ke beberapa rekan di internet. Dengan adanya fasilitas penyimpanan, pengguna
tidak lagi membutuhkan media penyimpanan konvensional seperti disket atau
flash disk. Pengolahan data dan penyimpanan dokumen, bahkan sharing
dokumen, dapat dilakukan hanya dalam satu jendela web browser.

Tujuh Karakteristik
Meskipun definisi Web 2.0 belum secara solid diformulasikan, terdapat tujuh
prinsip yang mendasari karakter Web 2.0. Karakter tersebut antara lain web
sebagai platform dimana menjadikan web sebagai tempat bekerja di manapun
Anda berada. Cukup dengan membuka web browser, Anda dapat mengerjakan
tugas mengetik dokumen, perhitungan keuangan, atau merancang presentasi
melalui aplikasi-aplikasi yang telah disediakan dan dapat dijalankan secara
langsung melalui internet.
Karakteristik berikutnya, adanya partisipasi dari pengguna dalam berkolaborasi
pengetahuan. Hal ini mengingatkan akan pemberian kepercayaan kepada
pengguna internet untuk dapat berpartisipasi dalam berbagi pengetahuan di
Wikipedia, sebuah ensiklopedia berbasis web yang disusun berdasarkan
masukan-masukan pengguna internet di seluruh dunia.
Karakteristik ketiga, data menjadi trademark-nya aplikasi, mengingatkan kita
pada slogan “Intel Inside” yang telah melambungkan nama prosesor Intel di
kalangan pengguna komputer. Trademark tersebut telah menjadi suatu garansi
kepercayaan dari pengguna akan kemampuan komputer yang akan ataupun
sudah dibelinya. Maksud yang sama juga diusung oleh karakteristik ketiga ini,
dimana penyuplai data akan memberikan trademark yang akan digunakan oleh
pemilik website untuk memberikan garansi kepercayaan kepada
pengunjungnya. Sebagai contoh adalah “Nevteq Onboard” untuk data peta
pada sistem navigasi GPS dan “Powered by Google” untuk dukungan Google
Maps pada peta dunia berbasis web.
Sedangkan karakteristik selanjutnya, web 2.0 sebagai akhir dari siklus
peluncuran produk software, mengilustrasikan setiap produsen software tidak
lagi meluncurkan produknya dalam bentuk fisik. Karena web menjadi platform,
pengguna cukup datang ke website untuk menjalankan aplikasi yang ingin
mereka gunakan. Hasil dari pengembangan fitur di dalam software dapat
langsung dirasakan oleh pengguna. Software tidak lagi dijual sebagai produk
namun berupa layanan (service). Produsen yang memberikan pelayanan yang
cepat dan bagus, akan menjadi pilihan pengguna.
Karakteristik kelima, dukungan pada pemrograman yang sederhana dan ide
akan web service atau RSS. Ketersediaan RSS akan menciptakan kemudahan
untuk di-remix oleh website lain dengan menggunakan tampilannya masingmasing
dan dukungan pemrograman yang sederhana.
Karakteristik keenam, software tidak lagi terbatas pada perangkat tertentu.
Hal ini mempertegas posisi web sebagai platform dimana setiap perangkat
dapat mengaksesnya. Komputer tidak lagi menjadi satu-satunya perangkat yang
dapat menjalankan berbagai aplikasi di internet. Setiap aplikasi harus didesain
untuk dapat digunakan pada komputer pribadi, perangkat genggam seperti
ponsel dan PDA, ataupun server internet.
Sedangkan karakteristik terakhir, adanya kemajuan inovasi pada antar-muka
(interface) di sisi pengguna. Dukungan AJAX yang menggabungkan HTML, CSS,
Javascript, dan XML pada Yahoo!Mail Beta dan Gmail membuat pengguna
merasakan nilai lebih dari sekedar situs penyedia e-mail. Kombinasi media komunikasi seperti Instant Messenger (IM) dan Voice over IP (VoIP) akan
semakin memperkuat karakter Web 2.0 di dalam situs tersebut.

Kunci Perbedaan
Menurut Wikipedia, yang menjadi kunci perbedaan dalam Web 2.0 dan Web 1.0
adalah keterbatasan pada Web 1.0 yang mengharuskan pengguna internet
untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di
dalamnya. Sedangkan Web 2.0 memungkinkan pengguna internet dapat melihat
konten suatu website tanpa harus berkunjung ke alamat situs yang
bersangkutan. Selain itu, kemampuan Web 2.0 dalam melakukan aktivitas drag
and drop, auto complete, chat, dan voice seperti layaknya aplikasi desktop,
bahkan berlaku seperti sistem operasi, dengan menggunakan dukungan AJAX
atau berbagai plug-in (API) yang ada di internet. Hal tersebut akan merubah
paradigma pengembang sofware dari distribusi produk menjadi distribusi
layanan. Sedangkan karakter lainnya, kolaborasi dan partisipasi pengguna, ikut
membantu memperkuat perbedaan pada Web 2.0.
Suatu website dapat saja memasukkan beberapa bahkan tujuh karakter Web
2.0 di dalam situs yang dibangunnya. Semakin banyak karakter yang masuk ke
dalam website tersebut, suatu situs akan mendekati Web 2.0. Yang terpenting
bukanlah klaim sebagai Web 2.0, namun mampukah dampak perkembangan
tersebut menjembatani pengguna internet dengan kepentingan perusahaan,
komunitas, atau Anda dengan menggunakan Web 2.0?

sumber : Ridwan Sanjaya,
http://ridwansanjaya.blogspot.com/2006/07/web-20-gelombang-baru-di-dunia.html